Minggu, 05 Juni 2011

Five days tour Dieng - Yogyakarta.

Well, hari ini saya akan memposting blog saya dengan tema yang berbeda. karena saya akan melengkapi tugas MULOK saya di sekolah.Maka saya akan menceritakan perjalanan saya selama saya di Yogyakarta.
Please enjoy. :

DAY 1 - 2 :
 Saya dan anak SMA 12 lainnya bersiap-siap berkumpul di sekolah pada pukul satu siang karena rencana keberangkatannya adalah pukul dua siang dari sekolah SMAN 12 Jakarta. Setelah semuanya berkumpul kamipun melaksanakan apel, absensi, dan doa bersama agar perjalanan kali ini akan berjalan dengan baik tanpa ada kurang sedikitpun. Setelah semua apel dan segala macamnya selesai dilaksanakan kamipun bergegas menuju bus kami masing-masing, sangat amat disayangkan, terjadi keterlambatan waktu sekitar kurang lebih satu jam dari waktu yang direncanakan, sehingga terjadilah keterlambatan untuk hampir semua jadwal yang telah direncanakan pada hari itu, seperti contohnya adalah makan malam.

Ternyata eh ternyata, tidak hanya sampai disitu saja efek keterlambatan tersebut, sampai efeknyapun berdampak pada hari selanjutnya yaitu pada perjalanan menuju Dieng, seharusnya kita sampai disana sebelumwaktu subuh datang, namun apalahdaya semua tak sesuai dengan rencana, kita terlambat dan sunrise yang seharusnya menjadi primadona pada perjalanan ke bukit Dieng tersebut malah tidak dapat kita nikmati.. Untunglah pemandangan disana dapat mengobati kekecewaan yang ada, pemandangan yang amat menakjubkan dan sangat indah membuat saya merasa sayang jika dilewatkan begitu saja. Setelah puas berada di Dieng kamipun melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur, yap, Candi Borobudur, tempat yang rasanya wajib dikunjungi apabila kita berwisata ke kota pendidikan ini. Namun untuk ketiga kalinya saya ucapkan sangat amat disayangkan, karena kita berkejar-kejaran dengan waktu yang ada, ya, benar sekali, semua karena keterlambatan perjalanan di awal yang menghancurkan hampir semuanya. Bayangkan saja kita hanya mendapatkan waktu kjurang lebih setengah sampai satu jam saja berada di Candi Borobudur tersebut. Ckckck. 

DAY 3  :

Only - one an extremely satisfying day for me, karena kita diberikan waktu bebas untuk berbelanja ke Malioboro, tapi tunggu dulu, sebelum itu kami mengunjungi UGM dan keraton dulu, setelahnya barulah kita diberi waktu bebas untuk berbelanja di Malioboro.

DAY 4 - 5:
 Today is not exactly lose also have fun level of the third day, because this fourth Day, me and a group headed to the resorts Kaliurang. There, we climbed the mountain that can be said quite challenging and adrenaline test for our size this is still amateur. Height, all of them, very challenging and my adrenaline test. sekitar satu jam kita semua memanjat sampai puncak, dan terlihatlah pemandangan menakjubkan dari atas sana, yaitu pemandangan alam yang dihasilkan alami akibat tumpahan lahar gunung berapi yang pernah terjadi disana. Sungguh pemandangan hebat yang amat menakjubkan. Setelah puas bermain-main dan menanjak gunung di Kaliurang tersebut kamipun langsung bergegas menuju bus kami masing-masing untuk melanjutkan perjalanan, yaitu, makan malam! Yap makan malam, setelah makan malam selesai kamipun bergegas kembali ke bus melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta dan sampai pada pagi harinya sekitar pukul 8 pagi, sungguh perjalanan yang menyenangkan walaupun kurang memuaskan, semoga dapat menjadi pelajaran dan dapat diperbaiki di perjalanan-perjalanan selanjutnya. Cukup sekian cerita saya mengenai perjalanan ke Jogja pada bulan Mei 2011 ini kurang-lebihnya mohon dimaafkan,semoga terhibur. 

THANKS FOR YOUR ATTENTION....

Minggu, 13 Februari 2011

DUNIA ENTERTAIMENT

Dunia hiburan (entertainment) tidak terbatas pada bidang di depan layar saja seperti artis, presenter, MC dan sebagainya. Banyak profesi di belakang layar yang juga memiliki potensi yang tidak kalah menjanjikan, baik dari sisi materi maupun kompetensi. Bagi mereka yang kurang memiliki kemampuan berbicara di depan umum, terdapat beragam profesi di dunia hiburan yang bisa dicoba.


“Entertainment itu tidak hanya public speaking saja, tapi dari tulisan pun bisa menjadi sesuatu yang menghibur (entertaining) dan bisa menghasilkan uang yang banyak. Bahkan mereka yang ‘tidak bisa ngomong’ itulah yang menjadi otaknya orang-orang yang ada di depan layar,” jelas komedian Sogi Indra Duadja pada acara Edutainment Workshop bertempat di Ruang Serba Guna Gedung Rektorat Baru Unpad Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, pekan lalu (26/5).


Menjadi artis adalah salah satu profesi dambaan setiap orang. Media berusaha menghibur masyarakat melalui artis-artis tersebut. Fungsi hiburan media massa ini diberikan dengan cara memudahkan seseorang utnuk menanggulangi masalah kehidupan. Maka dari itu lah banyak orang ingin menjadi seorang artis karena mereka akan dengan cepat dan instan memperoleh uang yang tidak sedikit jumlahnya. 

Sosok artis yang sering muncul di TV, job- job manggung, main sinetron yang tidak pernah sepi membuat artis sangat sibuk setiap harinya. Semakin muncul di media massa, popularitas pun semakin naik. Seiring ketenaran yang melejit otomatis harta kekayaan pun bertambah banyak. Karena banyaknya tawaran manggung, main sinetron, iklan, dan sebagainya, maka artis-artis ini butuh seorang yang mampu mengatur jadwal manggung atau tampil di televisi, mengatur keuangan artis, mengatur perjanjian kontrak dengan sponsor, mengarahkan artis untuk bersikap baik di depan media, membantu artis mempertahankan eksistensi, dan menjalin hubungan dengan pihak media untuk melakukan publisitas.

Artis-artis Indonesia yang telah memiliki nama besar seperti Agnes Monica, Olga Syahputra, Helmi Yahya, Anang Hermansyah, Joshua Suherman, dan artis-artis besar lainnya memiliki cara tersendiri dalam menghandle setiap hal yang berkaitan dengan citra, publisitas, dan eksistensinya di dunia hiburan tanah air. Sebagai contoh Helmi Yahya yang dijuluki sebagai “Raja Kuis”, yang merupakan seorang presenter dan juga seorang creator kuis yang banyak dikagumi. Dengan kemampuan managementnya, Ia mampu menangani sendiri hal-hal yang berkaitan dengan ekistentsinya sebagai seorang public figure, atau dengan kata lain Ia menjadi humas untuk dirinya sendiri. Beda halnya dengan sosok artis multitalent Agnes Monica, Ia mempercayakan semua urusannya kepada kakaknya sendiri. Banyak artis yang mempercayakan keluarganya untuk menangani segala urusan-urusan yang berkaitan dengan media. Namun secara keseluruhan di mata para artis ataupun masyarakat, manajer artislah yang dilihat dan diakui sebagai seseorang yang mampu mengangkat nama seorang artis.

Keberadaan profesi manajer artis ini boleh dibilang belum terlalu lama dikenal kalangan artis di Indonesia. Awalnya, jabatan itu hanya dianggap gaya-gayaan semata. “Biar seperti band-band asing, dibilang profesional gitu,” kata sejumlah orang ketika jabatan manajer mulai dikenal di industri hiburan Tanah Air . Ketika industri hiburan kian marak, kehadiran dan peran manajer pun dirasakan makin penting. Keberadaan manajer untuk seorang artis adalah sebuah tuntutan profesionalitas yang tak bisa ditunda lagi. Di lihat di lain sisi, sampai saat ini, banyak artis pengguna jasa manajer masih dihinggapi pemahaman yang keliru tentang peran dan tugas manajer. Banyak artis hanya menganggap manajer layaknya seorang pembantu yang harus mempersiapkan segala keperluan artis, mulai membawakan baju, tas, sampai mengawalnya kala bepergian.

Pada era 1970 dan 1980-an, beberapa artis memang sudah menggunakan jasa manajer. God Bless, misalnya. Grup yang dimotori Ahmad Albar dan Ian Antono itu pada era 1970-an malah dimanajeri beberapa orang. Di antaranya, Hendra Lie yang kini jadi pemilik Mata Elang, perusahaan lighting terbesar di Asia Tenggara. Ada juga Alex Kumara yang kini direktur di TVOne atau Log Zhelebour yang kini pemilik perusahaan rekaman Logiss Record. Tapi, menurut pengamat musik Bens Leo, jasa manajer mulai marak dipakai pada era 1990-an, ketika informasi teknologi kian terbuka.

Selain mencarikan klien, manajer juga jadi wakil dari artis ketika menjalin kerja sama dengan pihak lain,” ungkap Bens Leo selaku pengamat musik. Ada berbagai pendapat mengenai tugas seorang manajer di mana seorang manajer harus lebih terkonsentrasi pada pengembangan diri si artis. Manajer juga punya peran dalam membesarkan artis yang diurusnya. Keberhasilan Slank merilis 16 album, belasan kali pentas setiap bulan, dan melakukan kolaborasi dengan artis atau band lain, tak lepas dari peran Bunda Iffet Sidharta, ibunda Bimbim, drumer Slank yang mengurus manajemen grup musik itu. Meski menerapkan manajemen keluarga, tetap saja para personel Slank puas dengan kerja Bunda. Cara kerja Bunda Ifet tak lagi tergolong amatiran. Bahkan, pada perkembangan selanjutnya, ia mulai menggunakan media cetak untuk mendongkrak popularitas Slank yang juga berfungsi sebagai wahana mempererat para Slankers melalui media ‘Koran2an Slank’.

Seperti penjelasan di atas, peran manajer artis memang sudah ada dari dahulu, sekitar tahun 1970-an. Padahal pada kenyataannya dalam sebuah management artis terdapat tiga profesi yang mendukung pekerjaan para artis tersebut sebagai public figure, yang sangat menjanjikan jika ditekuni, yakni agen artis, manajer artis, dan publicist artis. Tugas seorang agen hanya untuk mencarikan pekerjaan untuk si artis, sedangkan manajer bertugas hanya untuk mengarahkan karier artis dan membuat perencanaan atau strategi karier si artis hingga 5 tahun ke depan dan profesi seorang Publicist memiliki tugas untuk secara terus-menerus mempublikasikan artis diberbagai media untuk terpeliharanya awareness masyarakat atas keberadaan sang artis. Ke tiga profesi tersebut telah diterapkan di salah satu negara yang sudah tidak asing lagi dengan praktek publisitasnya yakni Amerika Serikat, seperti disebutkan sebagai berikut: The average American actor employs an Agent, Manajer, and Publicist, relying on a team of skilled professionals to guide and cajole a career in the right path. Aktor Amerika rata-rata mempekerjakan seorang humas Agen, Manajer, dan, mengandalkan tim profesional terampil untuk membimbing dan membujuk karier di jalur yang benar. Bisa dikatakan bahwa artis-artis Amerika Serikat sudah tidak asing lagi terhadap profesi Publicist. Seperti artis yang sudah tidak asing lagi di telinga kita seperti Madonna, Beyonce, Timberlake, Hillton, mereka menggunkana jasa Publicist untuk melakukan salah satu pekerjaan mereka yaitu berhubungan dengan media.

Hubungan Publicist dengan rekan media (pers) merupakan cara yang bisa ditempuh untuk membuat citra yang baik di depan masyarakat. Hubungan artis dengan media adalah salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap pencitraan artis tersebut. Segala tindak-tanduk para artis disorot oleh media, oleh karena itu artis harus selalu menjaga hubungan yang baik dengan media di tengah jadwal artis yang sangat padat, yang menyulitkan artis untuk tetap dapat menjalin hubungan dengan media. Di mana sebuah profesi atau perusahaan atau public figure sangat dituntut untuk melakukuan fungsi media relations dikarenakan media yang sangat berpengaruh terhadap pembentukkan citra.

Di sinilah dibutuhkan peran seseorang untuk dapat melakukan hal tersebut. Seperti halnya pernyataan dari Jerry Dalton Jr, salah seorang manajer komunikasi perusahaan di Aircraft Company “Praktisi PR sangat penting perannya dalam menjalin hubungan dengan media”. Artinya, hubungan dengan media sangat penting dilakukan untuk menunjang keberhasilan kegiatan PR. Hal tersebut sama seperti apa yang dinyatakan oleh seorang pakar kehumasan dari San Jose State University Lawrence & Dennis L. Wilcox, “Publisitas sebagai informasi yang tidak perlu membayar ruang-ruang pemberitahuan atau penyiarannya, namun disaat yang sama tidak dapat dikontrol oleh individu ataau perusahaan yang memberikan informasi, sebagai akibatnya informasi dapat mengakitbatkan terbentuknya citra dan mempengaruhi orang banyak dan dapat berakibat aksi – di mana aksi ini dapat menguntungkan atau merugikan saat informasi dipublikasikan.”

Dengan profesi Publicist tersebut artis dimungkinkan dapat bertahan diketatnya persaingan dunia keartisan di mana cepat sekali bermunculan artis-artis pendatang baru yang memiliki keunikkan-keunikkan tersendiri. Di maraknya artis yang bermunculan, maka dibutuhkan sesosok seorang artis yang bukan hanya dapat menghibur para masyarakat dan penggemarnya melainkan harus dapat beracting atau bersikap layaknya seorang public figure. Cara artis berbicara dan bertutur kata di depan media, cara artis menanggapi setiap gossip yang beredar di masyarakat sampai dengan cara artis bersikap di depan media adalah hal-hal kecil yang sering kali diacuhkan oleh seorang artis.

Artis harus dapat bersikap secara cerdas guna terbentuk sebuah citra yang positif di masyarakat sehingga awareness masyarakat terhadap sang artis tetap terjaga. Hal tersebut yang akhirnya dapat membuat artis mampu bertahan diketatanya persaingan di dunia keartisan sekarang ini. Jadi peranan seorang Publicist adalah mengadakan hubungan yang dapat menghasilkan, dalam hal ini hubungan yang menghasilkan dengan media. Seperti arti dari kata publisitas yang berasal dari kata inggris, publicity yang memiliki pengertian.

“Publicity is information From an outside source that is used by the media because the information has news value. It is an uncontrolled method of placing massages in the media because the source does not pay the media placement.”

Publisitas adalah informasi yang berasal dari sumber luar yang digunakan oleh media massa karena informasi itu memiliki nilai berita. Publisitas merupakan sebuah metode yang tidak dapat terkontrol, dalam penempatan pesan di media massa karena sumber tidak membayar media untuk memuat berita bersangkutan. Sehingga peranan artis dalam menjaga hubungan baik dengan media mampu dicover oleh seorang Publicist.

Amerika Serikat seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Publicist sudah bertindak menggantikan posisi artis yang ditanganinya dalam berhubungan dengan media. Media sudah terbiasa menghubungi Publicist untuk memperoleh segala informasi mengenai artis yang diharapkannya. Artis sangat berperan kecil dalam hal berkomunikasi dengan media, “Selalu berusaha mendapatkan sisi lain dari sebuah berita dan menghubungi Publicist artis dan memintanya untuk menyangkal atau mengkonfirmasi berita tersebut.” Hal tersebut yang melindungi penulis secara hukum dan membuat perbedaan antara berita yang baik atau berita mati. “Kita biasanya harus mengetahui siapa sumber berita tersebut. Kami perlu mengetahui bagaimana Publicist merespon berita tersebut. Jika mereka mengatakan “no comment”, maka sudah berarti berita tersebut benar. Salah satu alasan lagi untuk tidak mengatakan no comment. ”, ujar salah satu Publicist artis di Amerika Serikat.

Terdapat pula beberapa berita di media massa luar negeri yang memberitakan mengenai seorang artis di mana berita tersebut merupakan hasil wawancara dari Publicist artis Mereka. Hal tersebut sangat terlihat dengan jelas keefektifan menggunakan jasa Publicist di kalangan para artis Hollywood. Hubungan dengan media yang baik akhirnya dapat terus mempertahankan eksistensi artis dimata publik dan penggemarnya dikarenakan citra yang baik yang selalu dapat dijaga oleh sang artis yang memiliki rutinitas dan kesibukan yang sangat padat dengan kata lain Publicist dapat sedikit meringankan pekerjaan artis untuk berhubungan dengan media



Acara yang digagas oleh Jurusan Manajemen FE Unpad ini terbagi dalam dua sesi, yaitu talkshow dengan tema “The Future of Entertainment Industry”dan workshop. Pada sesi workshop, para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu ini akan diberi materi dan praktek tentang dunia broadcasting.


Pada kesempatan tersebut, Sogi menjelaskan bahwa berbagai profesi di belakang layar yang bisa dipilih antara lain, sebagai script writer untuk berbagai media massa dan film, penulis buku, copy writer, dan sebagainya. Sogi yang juga penulis script untuk berbagai acara di televisi mengatakan bahwa banyak orang yang sukses di dunia hiburan berkat orang-orang di balik layar tersebut.


“Saya bukan seorang pelawak, tapi karena script yang baik dari tim kreatif di Extravaganza Trans TV, saya malah jadi dikenal sebagai pelawak. Padahal saya aslinya tidak pandai melucu,” tuturnya.


Penyiar Radio Oz, Vivie Novidia yang juga menjadi pembicara pada acara tersebut mengungkapkan bahwa berbagai profesi di bidang hiburan ini memang membutuhkan bakat yang kuat, misalnya bakat menyanyi, public speaking, acting dan sebagainya. Akan tetapi, bukan berarti orang yang tidak memiliki bakat tidak bisa bekerja di dunia hiburan.


“Dunia entertainment itu memang membutuhkan bakat. Tapi bagi yang tidak punya bakat, tetap bisa, tapi harus belajar terus menerus,” jelas Vivie yang juga pemilik Numberone Group, yang diantaranya mengelola kursus broadcasting ini.


Vivie juga menyampaikan bahwa di dunia entertainment yang dibutuhkan adalah kemampuan komunikasi yang handal dan kreatifitas yang tinggi. Kemampuan ini bisa diasah dalam berbagai kesempatan, seperti mengikuti berbagai kursus, workshop, seminar, atau pada ajang-ajang pencarian bakat.


Menanggapi hal tersebut, Sogi mengatakan bahwa kuncinya adalah berani mencoba dalam berbagai kesempatan dan berani gagal. “Kalau kita gagal, hanya ada dua jalan, coba lagi atau pindah jalur yang lebih tepat untuk kita,” tutur Sogi yang juga mantan penyiar Radio Oz.








Seperti yang saya pernah ikuti dalam ajang Pemilihan "COWOK CEWEK IDOLA 2011". Ajang pemilihan ini merupakan batu loncatan kita untuk dapat terjun ke dunia Entertainment seperti ini. untuk itu saya akan menjelaskan bagaimana cara kita dapat menjadi yang terbaik dalam hal Drama, Akting, MC ( Master of Ceremony ) dan Modelling. 
agar bila kita sudah terjun ke dunia entertain bisa PD dan tdak Nervous.   


DRAMA 


 Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama

Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

Drama (Yunani Kuno δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “aksi”, “perbuatan”. Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera.

2. TEATER

Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium. Dalam arti luas, teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Teater bisa juga diartikan sebagai drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

Teater (Bahasa Inggris “theater” atau “theatre”, Bahasa Perancis “théâtre” berasal dari Bahasa Yunani “theatron”, θέατρον, yang berarti “tempat untuk menonton”) adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Univesitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai ” yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain.” Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.

3. AKTING YANG BAIK

Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.

Dialog yang baik ialah dialog yang :

1. terdengar (volume baik)

2. jelas (artikulasi baik)

3. dimengerti (lafal benar)

4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

5. Gerak yang balk ialah gerak yang :

6. terlihat (blocking baik)

7. jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)

8. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)

9. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)


Penjelasan :

1. Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh.

2. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.

3. Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan ber‑ani.

4. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.

5. Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

6. Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut

a. Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.

b. Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.

c. Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:

· Bagian kanan lebih berat daripada kiri

· Bagian depan lebih berat daripada belakang

· Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah

· Yang lebar lebih berat daripada yang sempit

· Yang terang lebih berat daripada yang gelap

· Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi


Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung; Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting. Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb. Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

 BERIKUT MERUPAKAN CARA AKTING YANG BAIK : 


AKTING YANG BAIK
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
1. terdengar (volume baik)
2. jelas (artikulasi baik)
3. dimengerti (lafal benar)
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang :
1. terlihat (blocking baik)
2. jelas (tidak ragu ragu, meyakinkan)
3. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Penjelasan :
Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber ani.
Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :
Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.
Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:
Bagian kanan lebih berat daripada kiri
Bagian depan lebih berat daripada belakang
Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah
Yang lebar lebih berat daripada yang sempit
Yang terang lebih berat daripada yang gelap
Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung
Jelas, tidak ragu ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting
Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
Menghayati berarti gerak gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

Bab 1

MEDITASI dan KONSENTRASI

MEDITASI
Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
Tujuan Meditasi :
Mengosongkan pikiran.
Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.
Meditasi sebagai jembatan.
Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.

Cara meditasi :
1. Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
2. Atur pernafasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.
3. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.

Catatan :
Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.

KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :
1. Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
2. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.

Catatan :
Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.

Bab 2
VOKAL dan PERNAFASAN

PERNAFASAN
Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.

Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan :
Pernafasan dada
Pada pernafasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang orang teater pernafasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk Udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.
Pernafasan perut
Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
Pernafasan lengkap
Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernafasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.
Pernafasan diafragma
Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir akhir ini, banyak orang orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.

Latihan latihan pemapasan :
Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
Cara berikutnya adalah menarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vocal.

Catatan : Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.

VOCAL
Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vocal yang baik pula. "Baik” di sini diartikan sebagai :
Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).
Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),
Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.
Tidak monoton.
Untuk mempunyai vocal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan latihan vocal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vocal, antara lain :
Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…” dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.
Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…” (suara keluar lewat hidung).
Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa…….” sampai batas nafas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.
Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan nafas)
Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.
Keluarkan suara vokal “a i u e o", “ai ao au ae ", "oa oi oe ou", “iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ......” dan sebagainya.
Berteriaklah sekuat kuatnya sampai ke tingkat histeris.
Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung gulung, berlari, berputar putar dan berbagai variasi lainnnya.

Catatan :
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.

Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.

ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang diucapkan.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :
Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.
Misalnya:
Kehormatan menjadi kormatan
Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan
Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.
Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb
Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.

GETIKULASI
Getikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, getikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda.
Getikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata "Pergi !!!!” dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?” , "Kenapa ?” atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.
Getikulasi harus dilakukan sebab kata kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda.
Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), “Pergi….” (mendapat tekanan).

INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :
1. Tekanan Dinamik (keras lemah)
Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.
SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)
Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)
Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)
2. Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
3. Tekanan Tempo
Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda beda. Lambat atau cepat silih berganti.

WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, getikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dsb.
Selain mengenai dasar dasar vocal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar dasar vocal seperti di atas.

(Si Dul masuk tergopoh gopoh)
Dul : Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang kota, Pak.
Paiman : Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).
Paiman : Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.
Pak Gondo : (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !
(kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?
Dul : Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali sambil motret.

Bab 3
GERAK

OLAH TUBUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal.
Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.

Pelaksanaan olah tubuh :
1. Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yana kita punyai, tentang segala rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
2. Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.
Putar kepala pelan pelan dan rasakan lekukan lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali kali. Ingat, pelan pelan dan rasakan !
Putar bahu ke arah depan berkali kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.
Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.
Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama sama.
Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.
Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.
Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari lari di tempat dan meloncat loncat.

Macam Macam Gerak :
Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam macam gerak Latihan latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.
Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, yaitu
1. Gerak teaterikal
Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.
2. Gerak non teaterikal
Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari hari.

Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.
1. Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dsb.
1. Gerak Kasar
Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu :
1. Business, adalah gerak gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya :
sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.
sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.
1. Gestures, adalah gerak gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
2. Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung gulung, melompat, dsb.
3. Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.

Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu.
Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak dasar”. Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
• Gerak dasar bawah : posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.
• Gerak dasar tengah : posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.
• Gerak dasar atas : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.

Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.
Latihan-latihan gerak yang lain :
1. Latihan cermin.
dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.
2. Latihan gerak dan tatap mata.
sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.
3. Latihan melenturkan tubuh.
seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.
4. Latihan gerak bersama.
suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.
5. Latihan gerak mengalir.
suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.

GERAK DAN VOCAL
Setelah kita berlatih tentang vocal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vocal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya.
Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vocal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vocal.

Bab 4
PENGGUNAAN PANCA INDERA DALAM TEATER

Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain :

1. Mata
Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.
2. Telinga
• Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
• Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bis, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.
3. Hidung
• Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
• Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.
4. Kulit
• Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.
• Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
5. Lidah
• Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dsb.
• Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.

Bab 5
KARAKTERISASI

Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.
Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.
Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya :
Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)
Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)

Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut :
• Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)
• Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.

Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.

OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.

ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dsb.

Cara-cara melatihnya antara lain :
• Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.
• Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.
• Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
• Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.
• Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.

IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.
Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.
Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :
• Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.
• Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.
• Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.
• Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.

EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernafasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.

PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.

Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :
• Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.
• Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.
• Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.

Bab 6
BLOKING

Yang dimaksud dengan bloking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, bloking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak bloking. Yang dimaksud dengan bloking yang baik adalah bloking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

1. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
2. Utuh
Utuh berarti bloking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
3. Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
4. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
5. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut bloking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip bloking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.

KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu bloking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri. Berikut ini adalah skema komposisi pentas.

7 8 9
4 5 6
1 2 3

PENONTON

Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan nomornya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar bloking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.

Bab 7
NASKAH

Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
1. Tema
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
2. Lakon
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
 Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani
usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
 Dimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatanimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan
status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
 Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan
temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
3. Plot
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
 Pemaparan (eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
 Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
 Komplikasi awal atau konflik awal
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
 Klimaks dan krisis
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
 Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.
 


DUNIA MODELLING. 


MODEL dan dunia entertaint telah menjadi ikon baru bagi para remaja. Dunia modelling bisa dijadikan jembatan dalam menggapai impian para remaja saat ini. Lihat saja, aktor dan aktris-aktris muda yang sering muncul di dunia entertainment sekarang ini. Kebanyakan dari mereka dulunya adalah alumni model. Seperti Luna Maya. Via menekuni dunia model karena memang hobi dan mendapat dukungan penu dari mama tercinta.

TERJUN di dunia modelling tidaklah serumit menekuni entertainment di bidang sinetron ataupun tarik suara. Setidaknya itulah yang dirasakan model cantik Elisa A Hague atau yang akrab dipanggil Elisa. Dia yang mulai menekuni modelling sejak SD itu mengaku, kalau modelling itu simpel dan tidak menghabiskan banyak waktu.

’’Kalau modelling, kita hanya perlu mengekspresikan diri. Kita dipinjami dan bisa memakai baju bagus yang orang lain mungkin tidak bisa memakainya, didandani cantik dan difoto. Orang lain harus bayar, kita tidak,’’ ujar finalis Putri Indonesia 2005 wakil dari DKI Jakarta, ketika memberikan pelatihan modeling di Portrait Management Semarang, baru-baru ini.

Di samping itu, setelah menyelesaikan sesi pemotretan pada sebuah event, seorang model juga bisa menentukan pilihan sendiri untuk mengambil job tersebut lagi atau tidak tanpa menjadi masalah.

Menurutnya, setiap model pasti pernah mengalami pengalaman buruk saat pertama kali tampil show di hadapan orang banyak dan berjalan bersama para seniornya. Seperti halnya dirinya dulu. Model yang pernah menjadi penerjun payung tandem ’’Piala Emas Bang Yos’’ ini sempat takut setengah mati ketika hak sepatunya ’’nyangkut’’ di sela-sela panggung. Dia juga pernah mengalami robek baju, gara-gara tidak bisa menjaga jarak antara teman saat melenggang di catwalk.

’’Semua model pasti pernah mengalami pengalaman buruk. Namun dengan pengalaman itu, kita bisa tahu bagaimana menata diri di atas panggung,’’ lanjut model yang pernah menghiasi halaman sejumlah majalah, seperti Femina, Lisa Magazine, dan Jelita tersebut.
Jaga Penampilan Sebagai seorang model yang selalu dituntut tampil segar, model iklan Sehat Mataku-Jamu Leo itu tidak lupa menjaga penampilannya dengan cara menjaga pola makan dan tidur serta berolahraga. ’’Kita tidak harus kurus tetapi yang penting adalah sehat dan berisi,’’ 

Anak-anak remaja yang banyak terjun ke dunia model mereka lebih bisa menjaga diri. Karena orangtua berada di belakang mereka. “Mama selalu ada dan mendukung saya,” kata siswi SLTA ini. Sekarang ini dunia modelling dapat menjadi jembatan bagi para remaja yang memiliki potensi di bidang entertainment. Bahkan, tak jarang menurutnya modelling sudah menjadi hobi bagi sebagian remaja.

Dengan mengikuti event-event modelling tentu dapat menambah rasa percaya diri dan juga mengasah mental sebelum terjun ke dunia yang lebih tinggi lagi. Pengalaman inilah yang menjadi modal untuk menambah wawasan sebagai seorang model seperti Novita. Meski semula belum dikenal masyarakat luas, Novita sekiranya layak diperhitungkan. “Bangga dikenal masyarakat luas.

Dan memberikan sumbangsih bagi kemajuan dunia model terutama dari daerah,” katanya. Ya dunia meodeling bagi pelajar atau pun mahasiswa sekalipun kerap berbenturan dengan jadwal pelajaran mereka di sekolah ataupun kampus. Inilah yang kerap menjadi dilema.

Namun demi niat yang baik semua itu sepertinya mampu dijalani dengan baik “Ya ga enak kalau izin-izin terus sama guru di sekolah, tapi kami harus pandai-pandai membagi waktu sehingga pelajaran di skeolah tidak terganggu karena ini yang utama,” celetuk Novita meyakinkan. Model dan entertaint memang dunia yang menjanjikan. Banyak model-model remaja yang mengembangkan sayapnya di dunia entertainment.

Seperti menjadi pemain sinetron ataupun bintang iklan. Selama mereka masih berada dalam lingkungan yang benar, terjun ke dunia modelling adalah sebuah batu loncatan dalam menyalurkan hobi atau bahkan untuk menggapai impian. “Ya hobi sih. Kita banyak pengalaman dan tidak canggung lagi,” sebut Yunita optimis. Berbicara tentang Model, hati kecil beberapa model cantik ini seolah berbicara beberapa daerah masih kurang promosi.

Namun di daerah lain, usai ikut kegiatan para finalisnya dipromosikan entah lewat wawancara ataupun ikut show ke lebih tinggi. Nah…. sekarang tinggal bagaimana menyikapinya, terjun ke dunia entertainment memang tak hanya menjadi jembatan untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi, tetapi juga menawarkan berbagai pengalaman yang menarik. Kesuksesan, ketenaran dan kemewahan sudah menanti di depan mata.

Seandainya sudah menggapai impian tersebut, hanya satu yang perlu diperhatikan, jangan sampai kita terjebak ke dalam hal-hal yang negatif. Karena, bukan tidak mungkin kita akan kembali ke dalam lingkaran serta image yang negatif. Novita berencana terjun ke dunia model dan entertaint bila selepas SMA. “Itu pekerjaan sampingan saya. Cita-cita saya jadi dokter yang juga model,” katanya menutup pembicaraan. (san)

Bisa Jadi Pijakan

TIDAK mungkin seseorang akan menggeluti dunia modeling sepanjang hidupnya. Sepuluh tahun adalah waktu paling lama bagi seorang model untuk mampu berkiprah di atas catwalk. Sama halnya dengan olahragawan, kiprah seorang model juga sangat terbatas waktunya. Maksimal sepuluh tahun karena akan disusul para yuniornya. Setelah itu dia harus bisa mengembangkan diri sendiri.

Dunia modeling bisa dijadikan pijakan untuk berkiprah di bidang pekerjaan yang lain. ''Dunia modeling bisa dijadikan pijakan untuk meraih pekerjaan yang diimpikan atau yang lebih baik. Seorang model akan mudah diterima sebagai public relations perusahaan apapun karena mereka sudah terbiasa bergaul dengan banyak kalangan,'' Yunita menanggapi.

Dicontohkannya model nasional sekelas Ratih Sang, Okky Asokawati, dan Arzetti Bilbina bisa dijadikan contoh. Mereka tidak lagi berkiprah sebagai model secara aktif, namun tetap bisa eksis tak jauh dari dunia yang mereka geluti dulu. Mereka bisa menjadi pengamat model, perancang busana, atau menjadi pembina model. “Itu akan menjadi pelajaran bagi kami generasi muda,”
 

A. The Best Catwalk Wanita.



B. The Best Catwalk Pria.



video


A. THE BEST CATWALK PRIA. 



video

B. THE BEST CATWALK WANITA